Senin, 22 Maret 2010



Mengunjungi Banjir Cikao Bandung
Tak Miliki Saudara, 17 KK Menginap di Majelis Taklim

PASANG dan surut, banjir datang pergi di Desa Cikaobandung, Kecamatan Jatiluhur, Kab Purwakarta. Hingga kemarin bencana banjir yang telah terjadi selama sepekan ini masih merendam ratusan rumah di wilayah itu setelah beberapa hari surut. Bahkan banjir kali ini memaksa 300 KK keluarga harus diungsikan meski sebanyak 17 KK terpaksa bertahan di sebuah majelis taklim Al- Manar Desa Cikao Bandung karena alasan tidak memiliki saudara terdekat.

Toni Triyadi, Purwakarta

MASUK ke perkampungan penduduk di kp Cikao II Desa Cikao Bandung Kec Jatiluhur, Purwakarta sepintas tidak ada yang berbeda. Bencana banjir yang telah  merendam sebagian wilayah seolah tak mematikan aktifitas warga. Mereka tetap bekerja, meski diantaranya ada yang terlihat sibuk membersihkan genangan air yang mulai sedikit surut.  Tapi, ancaman pasang surut air datang dan pergi diakui masih "Menghantui" kecemasan warga. Pasalnya, di waktu tertentu ketinggian air bisa meluap hingga 1,5 meter. Seperti yang diberitakan pada Rabu (17/3) malam lalu, sungai cikao meluap dan merendam kawasan itu hingga lebih dari satu meter. Tak sampai disitu meluapannya sungai cikao juga kembali menyergap wilayah tersebut pada Sabtu (20/3) lalu.

Akibatnya, sebanyak 300 KK di lima kampung seperti di Rw 01 Kampung Batulayang, Rw 02 Kampung Talibaju, Rw 03 Kampung Cikao 1, Rw 04 Kampung Cikao 2 dan Rw 06 Kampung Cilalawak, Desa Cikaobandung kemudian  akhirnya  diungsikan. Namun dari mereka rata-rata memilih tinggal di rumah saudara terdekat dari pada di penampungan.

Lalu bagimana dengan yang tidak memiliki saudara? Soal itu, tercatat ada sekitar 17 KK  yang terpaksa menginap di sebuah gedung majelis taklim Al- Manar di desa Cikao Bandung. "Ya, mau dimana lagi. Karena di sini tidak ada saudara dekat makanya kita memilih disini,"kata Nana Wirata (57) Warga Cikao II kepada Radar Purwakarta, dilokasi, kemarin.

Menginap di pengungsian memang tidak senyaman dirumah sendiri. Sebut Nana, ia pun harus berhimpit-himpitan dengan pengungsi lainnya. Tak hanya itu, jika malam tiba suasana dingin menyergap warga karena minimnya persedian selimut. Beruntungnya, warga Cikao yang memiliki toleransi yang cukup tinggi sangat membantu para pengungsi.

Atas hal itu, Nana mengaku masih memerlukan perhatian pihak lain terutama selain selimut juga bantuan sembilan kebutuhan bahan pokok. "Bantuan memang sudah mengalir baik berbagai instansi dan pemkab Purwakarta tapi bantuan tersebut belum mencukupi. Sebab kIta disini yang sudah lima hari masih tetap membutuhkan. Dan jika banjir terus menerus otomatis stok kebutuhan pun menipis,"bebernya.

Sementara  H. Mamat Rahmat seorang pengelola Majelis Taklim Al- Manar mengungkapkan hingga kini warga juga masih dihantui kecemasan atas ancaman banjir susulan. Ia berharap, Pemkab Purwakarta juga mencarikan solusinya mengingat banjir yang terjadi setiap tahunnya itu sudah terjadi pada tahun 1972. "Tapi banjir kali ini yang terparah. Dan mirip dengan kondisi banjir tahun 2000 lalu,"tukas Mamat. (#)



Dapatkan nama yang Anda sukai!
Sekarang Anda dapat memiliki email di @ymail.com dan @rocketmail.com.


0 komentar:

pengunjung